8 Jenis Tanaman Beracun yang ada di Indonesia

Pada 399 SM, Socrates haruslah menerima kenyataan dihukum mati sebab dituduh tak percaya Tuhan oleh pengadilan Athena. Ia dipaksa meminum ramuan tanaman beracun mematikan hemlock (Conium macalatum). Dengan cepat racun bekerja, Socrates muntah, sakit perut, limbung, otot-ototnya lumpuh, meracau & akhirnya mati lemas. Tanaman beracun mengiringi sejarah tragedi manusia yang haruslah mati sebab dipaksa ataupun sukarela menelannya. Bahkan sang pujangga, Shakespeare, sering "membunuh" karakter tokohnya dengan tanaman beracun. Juliet meminum segelas Belladona (Atropa belladonna), & ayah "Hamlet" diracun dengan henbane (Hyoscyamus niger).

8 Jenis Tanaman Beracun yang ada di Indonesia

Kita tinggalkan Eropa, sebab Indonesia nyatanya juga punya beberapa spesies tanaman 'seram' yang dalam dosis berlebih bisa membunuh. Bahkan satu diantaranya yakni, racun Ricin, sempat dipakai untuk percobaan pembunuhan Presiden Barack Obama.

Dari banyak tipe tanaman beracun yang tumbuh di Indonesia, kita bakal mengulas 8 tipe tanaman yang paling beracun.

Tanaman Beracun yang Ada di Indonesia


Jarak  Kepyar (Ricinus communis)
Daun & getah jarak banyak dipakai untuk pengobatan tradisional, namun siapa sangka biji jarak ialah pembunuh yang mematikan. Memakan dua biji jarak sudah lumayan menamatkan riwayat kita selamanya.

Pada April 2013, Gedung Putih dihebohkan dengan suatu surat yang ditujukan untuk Presiden AS, Barack Obama, dalam surat tersebut terlampir racun Ricin.

Ricin, merupakan senyawa sampingan yang dihasilkan dari pengolahan biji tanaman jarak. Senyawa ini bisa mengdampakkan orang tewas sebab menyebabkan gangguan sistem peredaran darah & pernafasan. Senyawa ini sanggup menggumpalkan darah dalam tubuh. Ketika ricin masuk dalam tubuh, satu molekul ricin bakal membunuh satu sel. Apabila senyawa ini terhirup, disuntikkan ataupun tertelan, kekurangan dari titik kecil ricin bisa membunuh seseorang dalam waktu 36-48 jam.

Jarak Psupaya (Jatropha curcas)
Para pakar medis berkata, ricin merupakan pembunuh ganas sekuat virus anthrax. Dan, bahayanya lagi, hingga ketika ini belum ditemukan penawarnya.

Jarak Psupaya (Jatropha curcas) juga tak kalah beracun. Ia mempunyai kandungan racun yang disebut senyawa curcin. Suatu penelitian komparasi (perbandingan) efektivitas racun antara Ricinus communis dengan Jatropha curcas  secara memberi makan biji keduanya pada ayam,  menunjukkan ayam yang memakan biji Ricinus communis & Jatropha curcas mati, tetapi reaksi racun Ricinus communis lebih cepat.


Ubi Racun/ Singkong Karet (Manihot glaziovii)
Kini tengah digalakkan program singkong masuk hotel oleh Pemerintah sebagai program deversifikasi pangan. Lalu kalau benar singkong beracun, kok berani-beraninya masuk hotel segala?

Singkong ataupun ubi terbukti mengandung racun, tetapi kadarnya tidak sama bergantung varietasnya. Singkong pahit,  Manihot glaziovii (dikenal sebagai ubi racun ataupun singkong karet) kadar racunnya jauh lebih tinggi dibanding singkong manis,  Manihot utilissima (singkong yang kita konsumsi sehari-hari).  Racun biasanya terkonsentrasi di daun & umbi singkong, diketahui sebagai senyawa cyanogenik glycoside; linamarin & lotaustralin yang oleh enzim bisa menghasilkan asam sianida.

Sianida dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin & susah terditeksi, ia tidak berasa, tidak berbau & tidak berwarna. Satu-satunya indikator untuk mengenal sianida ada pada singkong ialah warna kebiruan yang timbul pada umbi bila lama terpapar udara. Kambing yang memakan beberapa lembar daun ubi racun dipastikan bakal tewas tidak lama kemudian.  

Racun sianida bakal jauh berkekurangan bila dipanaskan. Banyak korban keracunan dampak salah dalam pengolahan singkong sebab memasak umbi ataupun daun tidak sempurna. Jadi, jangan sempat memakan daun ataupun umbi singkong dalam keadaan mentah ataupun setengah matang.

Kecubung (Datura Metel)
Kecubung yang berada di Indonesia ialah tipe Datura Metel, tetap satu keluarga dengan Bunga Lonceng. kecubung ini mengandung beberapa senyawa kimia yang berkhasiat menyembuhkan. Kandungan ini membuat kecubung bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk beberapa penyakit contohnya asma, reumatik, sakit pinggang, pegel linu, bisul maupun eksim, sakit gigi, ketombe, hingga nyeri haid. Bagian yang paling sering dipakai sebagai obat herbal ialah daun kecubung.

Tetapi kecubung juga mengandung racun berupa zat alkaloid yang mempunyai efek halusinogen khususnya dibagian bijinya. Efek yang ditimbulkan bila kecubung yang dikonsumsi melebihi takaran antara lain mual, muntah, sesak nafas, rasa gelisah, nadi berdenyut cepat, kulit wajah & badan berubah menjadi merah, pusing, mulut terasa kaku, halusinasi hingga akhirnya berujung pada kematian. Dalam beberapa permasalahan ditemukan pemakaian racun biji kecubung untuk bunuh diri.

Gympie-Gympie (Dendrocnide moroides)
Namanya terdengar imut-imut, namun nyatanya racunnya amit-amit.Orang luar negeri sering menyebutnya sebagai tanaman penyengat sebab bila kulit tersentuh daun gympie-gympie tidak banyak saja, rasanya contohnya disengat oleh panas menarik & tidak bakal hilang hingga berbulan-bulan. Tanaman ini mempunyai track record sempat membunuh fauna & manusia. Biasanya tumbuh di hutan timur laut Australia & Hutan Maluku, Indonesia. Saking kuat racunnya, daun gympie-gympie yang telah kering beratus tahunpun tetap mengandung racun moroidin (racun yang terdapat di bulu tanaman gympie-gympie).

Bila kita masuk hutan & melihat tanaman ini, segeralah menjauh. Berada di dekat pohon gympie-gympie juga selesaiiko terkena racunnya. Dengan efek racun yang begitu dashsyat, tentara Inggris diduga sempat berminat pada Gympie-Gympie & berniat menjadikannya senjata biologis pada akhir 1960.


Pohon Upas (Antiaris toxicaria)
"Serombongan pengembara berteduh di bawah pohon di suatu tanah lapang. Semenit lalu seorang jatuh & mati tanpa sebab. Yang lain lari tunggang-langgang sebelum akhirnya satu persatu juga jatuh & mati. Mereka tidak tahu pohon tersebut ialah pohon upas." Cerita horor tersebut dicatat oleh Friar Odoric (1286-1331), misionaris Italia yang mengunjungi Nusantara abad ke-14.

Pohon Upas begitu legendaris pada masa penjajahan VOC di Nusantara, bahkan selama beratus-ratus tahun jadi momok menakutkan tentara VOC menghadapi perlawanan rakyat yang memakai racun upas sebagai senjata. Hingga pada akhirnya Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) mengutus Thomas Horsfield (1773-1859), naturalis asal Amerika Serikat, untuk mendalami racun pohon tersebut.

Ilustrasi "Pohon upas, pohon beracun dari Jawa", 1845 (www.historia.co.id)
Hasilnya, pohon upas terbukti mematikan, namun hanya lendir getahnya. Efek racun pohon upas tersebut lumayan mengejutkan kala diujicobakan terhadap seekor ayam & anjing, yang pertama langsung mati kekurangan dari dua menit & yang satunya dalam kurang lebih delapan menit. Dalam laporannya pada 1812, Horsfield mengutarakan bahwa penduduk lokal sudah menyadari khasiat racun pohon upas untuk kebutuhan membunuh lawan-lawannya. Sekali terkena getah racunnya, orang tersebut bakal kejang-kejang lalu mati.

Sampai sekarang, pohon upas tetap bisa ditemukan di Indonesia. Di Jawa, ia lebih dikenal sebagai pohon ancar, yang akhirnya menjadi nama ilmiah untuk pohon ini, Antiaris toxicaria.

Daun Tersanjung (Dieffenbachia amoena)
Tanaman ini paling sering Kita temui bahkan mungkin Kita punya koleksinya di rumah. Racun dalam tanaman ini terdapat pada getah daun & batangnya. Sangat berbahaya apabila tanpa sengaja termakan daunnya oleh ternak ataupun anak-anak yang baru belajar menggigit apa saja yang ditemuinya.

Racun dalam getah tanaman ini bisa menyebabkan gatal-gatal & kejang, tidak hanya tersebut apabila terkena kerongkongan bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan & fatalnya bisa menyebabkan kematian.

Hal ini dikarenakan sebab terdapat kandungan kristal Kalsium Oksalat di dalam sitoplasma sel yang disebut Rafida & bentuknya contohnya jarum.

Pohon Bintaro (Cerbera Manghas & Cerbera Odollam)

Pohon Bintaro sering disebut juga sebagai Mangga Laut, Buta Badak, Babuto, & Kayu Gurita. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai Sea Mango Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) Bintaro dinamai sebagai Cerbera manghas. Nama Bintaro juga sering disematkan terhadap kerabat dekatnya yang bernama ilmiah Cerbera odollam. Kedua tipe tanaman ini terbukti mempunyai kemiripan dalam beberapa hal.

Tanaman Bintaro tersebar luas di kawasan tropis indo pasifik tergolong Indonesia. Habitat aslinya ialah daerah pantai & hutan mangrove (bakau). Tetapi saat ini Bintaro banyak ditanam sebagai pohon penghijauan penyerap karbondioksida (CO2).

Bintaro Beracun Namun Mengandung Biofuel. Hampir semua bagian tanaman Bintaro mengandung racun cerberin. Cerberin merupakan racun yang bisa menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, jadi mengganggu detak jantung & bisa menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya pun bisa menyebabkan keracunan. Di India dijuluki "pohon bunuh diri" sebab di sana sering bunuh diri memakai Bintaro.

Saga Rambat (Abrus precatorius)
Saga rambat, saga telik, ataupun saga areuy (Abrus precatorius) merupakan flora obat anti seriawan yang terkenal. Flora merambat ini, yang berbiji jingga kemerahan, juga biasa disebut sebagai saga jadi kadang-kadang rancu dengan saga pohon (Adenanthera pavonina).

Daun flora ini, bila dikombinasikan dengan daun sirih, menjadi obat tradisional yang ampuh menanggulangi seriawan. Khasiat ini berasal dari beberapa bahan aktif abrus lactone, asam abrusgenat, & turunan metilnya. Daunnya juga mengandung glycyrrhizin.

Biji flora ini berwarna merah dengan warna hitam dibagian yang runcing. Bijinya beracun, & mirip dengan racun jarak pohon (ricin). Tetapi, di Tiongkok biji ini kadang-kadang dijadikan perhiasan sebagai lambang kasih sayang. Terdapat laporan tentang kematian dampak proses pengolahan biji ini sebagai perhiasan.

Konon, flora yang banyak di temukan di Indonesia ini mempunyai tingkat racun 75 kali lebih keras dari racun ricin pada biji jarak.

0 Response to "8 Jenis Tanaman Beracun yang ada di Indonesia"

Post a Comment

Berikan Saran dan Komentar Anda Jika menurut Anda Berguna :)