Alasan Indonesia Tidak Menggunakan Bahasa Belanda

foto Alasan Indonesia Tidak Menggunakan Bahasa Belanda

Alasan Indonesia Tidak Pakai Bahasa Belanda

Selama ini Belanda telah dianggap menjajah Indonesia selama kekurangan lebih 3,5 abad oleh khalayak ramai. Kedatangan Belanda yang mulanya hanya ingin berniaga dengan pribumi Nusantara, lambat laun menjadi ajang penjajahan saat perang dunia kedua berkecamuk. Adapun perkara yang menjadikan kesempatan penjajahan Belanda di Indonesia terbuka ialah banyaknya perang sodara antar putra mahkota dibeberapa kerajaan kecil di Nusantara ini. Dengan melihat kesempatan itu, Belanda mengubah arah tujuannya yang mulanya perdagangan menjadi ekspansi politik untuk memperkuat kekuasaan.

Meskipun Belanda sudah sangat lama menjajah bumi pertiwi ini tetapi hingga sekarang tetap belum ditemukan dengan cara tentu berapa lama masa penjajahan Belanda tersebut. Hal tersebut merupakan pertanyaan besar setiap pengamat sejarah. Apalagi diperkuat dengan tidak dipakainya bahasa Belanda menjadi bahasa keseharian & minimnya adat belanda yang tertanam di benak masyarakat Indonesia saat ini.

Sejarah Belanda di Indonesia

Bukti sejarah mencatat, Belanda pertama kali mendarat di Indonesia di pelabuhan Banten dengan empat buah kapal yang dipimpin oleh Kapten “Pieter Keyzer” & “Cornelsi de Houtman” pada 23 Juni 1596. Kedatangan kapal Cornelis de Houtman & awak kapalnya semula disambut dengan bagus oleh para pribumi Banten. Banyak penduduk pribumi yang naik ke kapal tersebut untuk memperkenalkan makanan atau dagangan terhadap mereka. Tetapi, sambutan bagus ini disalah artikan oleh Cornelis de Houtman yang justru bertindak kasar terhadap pribumi Banten yang memperkenalkan keramah tamahan terhadap mereka. Meski demikian, pribumi banten tetap saja memperkenalkan lada yang dibutuhkan oleh Belanda.

Tujuan Belanda ke Indonesia semula murni untuk berdagang rempah-rempah, mengambil keuntungan besar dari penjualan rempah-rempah yang sangat di perlukan di Eropa. Tetapi pada perkembangannya tujuan tersebut berubah dari yang semula berdagang & selanjutnya memonopoli perdagangan hingga mengawali masa penjajahan Belanda hingga kekurangan lebih 3,5 abad kemudian.

Adanya persaingan dagang antar sesama pedagang Belanda, berimbas pada keuntungan yang terus tidak banyak & tidak jarang memenyesal. Melihat adanya hal tersebut, lalu pada 1602 dibentuklah perserikatan dagang Belanda yang bernama "Vereenigde Oost Indische Compagnie" (VOC) dengan modal awal 6,5 juta gulden yang berkedudukan di Amsterdam.

Tujuan dari dibentuknya organisasi ini ialah untuk meraup laba sebesar-besarnya & memperkuat penjajahan Belanda di Indonesia untuk melawan kekuasaan Portugis & Spanyol. Selama abad ke-18, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (disingkat VOC) memantapkan dia sebagai kekuatan ekonomi & politik di pulau Jawa sesudah runtuhnya Kesultanan Mataram. Perusahaan dagang Belanda ini telah menjadi kekuatan mutlak di perdagangan Asia sejak awal 1600-an, tetapi pada abad ke-18 mulai mengembangkan ketertarikan untuk campur tangan dalam politik pribumi di pulau Jawa demi menambah kekuasaan mereka pada ekonomi lokal.

Pembentukan VOC yang baru seumur jagung mendapat saingan berat yaitu kongsi dagang Inggris EIC (East Indies Compagnie) yang telah dibentuk pada tahun 1600. Untuk memudahkan ruang gerak VOC, lalu dibangunlah kantor-kantor cabang contohnya di Middelberg, Delft, Rotterdam, Horm & Enkhuizen. Sesudah dianggap lumayan mapan, VOC lalu membangun cabang di Nusantara dengan Pieter Both yang menjabat sebagai Gubernur Jendral pertama & dibantu oleh Dewan Penasehat (Raad van Indie) sebanyak 5 anggota. Dengan demikian, hegemoni politik yang menguatkan penjajahan Belanda di Indonesia menjadi terus terstruktur rapi & kokoh di bumi nusantara ini.

Tetapi korupsi, manajemen yang kurang baik & persaingan ketat dari Inggris (East India Company) mengdampakkan runtuhnya VOC menjelang akhir abad ke-18. Pada tahun 1796, VOC akhirnya gulung tikar & lalu dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda. Dampaknya, harta & milik VOC di Nusantara jatuh ke tangan mahkota Belanda pada tahun 1800. Tetapi, saat Perancis menduduki Belanda antara tahun 1806 & 1815, harta tersebut dipindahkan ke tangan Inggris. Sesudah kekalahan Napoleon di Waterloo diputuskan bahwa sebagian besar wilayah Nusantara kembali ke tangan Belanda.

Meskipun sejarah mencatat bahwa penjajahan Belanda di Indonesia termasuk relatif lama, tetapi penduduk di negara ini tidak mengunakan bahasa Belanda sedikitpun & bahkan banyak yang tidak faham sama sekali. Sungguh sebuah hal yang menjadi pertanyaan besar, mengapa bangsa yang begitu lama terjajah oleh bangsa yang lebih besar, kebudayaan & bahasanya tetap tetap sama & tidak ada perubahan yang signifikan didalamnya. Tentang hal itu, dalam postingan ini bakal mengulas tentang sejarah bahasa Indonesia & mengapa bangsa ini tidak memakai bahasa Belanda meskipun sudah lama terjajah olehnya.

Sejarah Pengunaan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Nasional

Bahasa Indonesia ialah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang dipakai sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern. Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke beberapa tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkah pemakaiannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, di mana diketahui bahasa Melayu yang dipakai di Jambi memakai dialek "o" sedangkan dikemudian hari bahasa & dialek Melayu berkembang dengan cara luas & menjadi beragam.

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi dengan cara geografis semula hanya mengacu terhadap wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera jadi pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu contohnya disebutkan dalam Kakawin Nsupayaakretagama.
Bahasa Indonesia sendiri merupakan bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi Republik Indonesia & bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan pemakaiannya sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, atau lebih cocoknya sehari sesudah proklamasi & bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Tetapi di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja yang formal.
Dari aspek pandang linguistik, bahasa Indonesia ialah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai ialah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan dampak pemakaianya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial & beberapa proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" jika nama bahasa Melayu tetap dipakai. Proses ini menyebabkan tidak samanya Bahasa Indonesia sekarang dari varian bahasa Melayu yang dipakai di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, bagus melewati penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah & bahasa asing.

Meskipun dipahami & dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa bunda bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia memakai salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali memakai versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia dipakai sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, & beberapa forum publik lainnya. Jadi bisalah dikatakan bahwa bahasa Indonesia dipakai oleh seluruh warga Indonesia.

Dari fakta di atas bisa anda ketahui bahwa alasan masyarakat Indonesia tidak berbahasa Belanda ialah adanya sistem kebudayaan yang terjaga & tidak sanggup dirusak oleh kolonialisme meskipun berselang ratusan tahun. Hal tersebut terjadi sebab masyarakat pribumi sejak awal mempunyai karakter yang kuat dalam mempertahankan keyakinan, adat & bahasa yang dimiliki. Jadi dengan cara terpaksa, penjajah Belanda memakai bahasa Melayu sebagai bahasa administratif politik & perdagangan di bumi nusantara ini. Lalu melewati sumpah pemuda, para pendiri bangsa ini memutuskan untuk mengubah bukti diri bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan & untuk menghapus pengaruh dari ciri khas kolonialisme bangsa Belanda. Nah itulah Alasan Indonesia Tidak Menggunakan Bahasa Belanda.

0 Response to "Alasan Indonesia Tidak Menggunakan Bahasa Belanda"

Post a Comment

Berikan Saran dan Komentar Anda Jika menurut Anda Berguna :)